febriani F ekawati

Start here

November 2018
M T W T F S S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Flag Counter

The Benefit of Stair Climbing

When you have a choice to take the stairs or ride the escalator…which one do you choose?  Will you reconsider your choice after reading this article?

Stair climbing is an activity that is freely accessible for individuals when navigating their environment. Climbing the stairs has become a lifestyle model for enhancing physical activity that is encouraged.  Although it is considered as an unattractive activity for some demographic groups (Eves, 2014), stair climbing evidently carries multiple health advantages for most of the population.

Regular stair climbing has been associated with abundant health benefits (Meyer et al., 2010).  Evidence suggests that regular stair climbing could enhance the cardiovascular fitness of sedentary individuals, improve cholesterol profiles, and improve body composition (Boreham et al., 2005; Boreham, Wallace, & Nevill, 2000; Kennedy, Boreham, Murphy, Young, & Mutrie, 2007; Meyer et al., 2010).

Note: this article is a part of the introduction of my thesis

To be continued…….

 

Self-Efficacy Theory

Kali ini saya akan membahas tentang suatu teori yang saya anggap sangat menarik dalam materi Psikologi Latihan, yaitu Self-Efficacy Theory. Tetapi sebelum saya membahasnya lebih jauh, saya akan berikan sebuah ilustrasi agar lebih mudah untuk dipahami.

“Menjelang acara pernikahannya yang kurang enam bulan lagi, Eka menginginkan penampilannya sempurna secara fisik, maka dari itu dia ingin menurunkan ukuran bajunya dua ukuran dari kondisinya sekarang. Setelah berkonsultasi dengan salah satu personal trainer di fitness center yang terbaik di kotanya, dia terisnpirasi untuk melakukan exercise. Dia juga telah membaca suatu majalah kebugaran bahwa Yoga adalah jalan terbaik untuk membuat badannya lebih kencang. Setelah menemukan jadwal yang tepat dengan waktu kerjanya untuk datang latihan, dia dengan semangat dan senang mengikuti kelas yoga yang ditawarkan, sehingga dia percaya bahwa dia akan dapat menguasainya.”

Contoh lain adalah sebagai berikut: jika anda diberikan kesempatan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di jurusan olahraga dengan syarat berenang 10 kali putaran di kolam renang standar internasional, anda pasti akan mencobanya, dengan asumsi anda bisa berenang.  Nah sekarang bayangkan jika anda akan diberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan biaya kuliah, tetapi harus mampu berenang mengalahkan atlet nasional. Apakah anda masih mau melakukannya? Jika kemampuan berenang anda hanya biasa saja, sepertinya anda tidak akan mencobanya. Kenapa kedua kasus ini berbeda? Pada kasus pertama, anda percaya anda dapat berenang 10 putaran kolam renang. Kasus kedua, anda tidak percaya dapat mengalahkan atlet nasional, dan anda tidak akan pernah mencobanya. Tapi pernahkah anda membaca hal ini “Saya pikir saya bisa”….Inilah konsep dari self-efficacy.

Self-efficacy adalah sebuah keyakinan akan kemampuan diri sendiri untuk berhasil mencapai sesuatu. Self-Efficacy Theory (SET) adalah sebuah teori yang dimotori oleh Bandura pada tahun 1977 dan dikembangkan dalam lingkup Social Cognitive Theory (SCT). Dalam SCT, individual dilihat sebagai proactive agents dalam regulasi kognisi mereka, motifasi, aksi, dan emosi daripada sebagai passive reactors untuk lingkungan mereka. Dilihat dari sudut aktivitas fisik, teori-teori yang berdasar pada sebuah pendekatan social kognitif melihat perilaku latihan dipengaruhi oleh human cognition (contohnya., expectations, intentions, beliefs, attitudes) dan external stimuli (contohnya., social pressures/ experiences).

SET menjelaskan kepada kita bahwa pada umumnya seseorang hanya akan mengusahakan sesuatu yang mereka percaya/ yakini dapat berhasil dan tidak akan mau mengusahakan sesuatu yang mereka pikir hasilnya hanya kegagalan. Hal ini masuk akal—-kenapa anda mencoba sesuatu yang anda pikir tidak mampu melakukannya? Tetapi, individu dengan efficacy yang kuat percaya mereka akan berhasil meskipun melakukan tugas-tugas yang sulit. Mereka melihat hal itu sebagai tantangan yang harus dikuasai, dibandingkan ancaman yang harus dihindari. Orang-orang tipe seperti ini selalu menentukan tujuan dan menjaganya dengan komitmen yang kuat. Jika menghadapi suatu kegagalan, mereka meningkatkan dan mempertahankan usaha mereka untuk sampai berhasil. Mereka menghadapi kesulitan atau ancaman dengan keyakinan bahwa mereka memiliki kendali atas hal tersebut. Dengan memiliki cara pandang seperti ini akan mengurangi tekanan (stress) dan menurunkan risiko depresi pada seseorang. Sebaliknya, orang-orang yang meragukan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit melihat tugas ini sebagai ancaman. Mereka menghindari tugas tersebut berdasarkan kelemahan pribadi mereka sendiri. Mereka cepat sekali menyerah jika menghadapi kesulitan atau kegagalan, dan tidak butuh banyak waktu bagi mereka untuk kehilangan kepercayaan pada kemampuan mereka. Cara pandang seperti ini akan meningkatkan tingkat stress dan depresi.

Selanjutnya, bagaimana cara meningkatkan self-efficacy pada seseorang? Berikut adalah empat sumber keyakinan dalam meningkatkan self-efficacy, yaitu: performance accomplishment, vicarious experiences, verbal persuasion, and physiological states.

Performance Accomplishment. Penampilan-penampilan pada masa lalu terlihat sebagai sumber yang paling berpengaruh pada efficacy karena berdasarkan penguasaan pengalaman (mastery experiences) mereka sendiri. Mastery experience adalah sumber yang paling penting dan potensial untuk meningkatkan self-efficacy. Seseorang yang berhasil menjalankan tugas akan percaya bahwa dia memiliki kempampuan yang diperlukan. Jika seseorang telah berulang kali melihat pengalaman-pengalaman tersebut sebagai kesuksesan, self-efficacy belief pada umumnya akan meningkat. Jika pengalaman-pengalaman tersebut terlihat sebagai sebuah kegagalan, self-efficacy belief pada umumnya akan menurun. Contohnya seperti ini: dalam mewujudkan keinginannya menurunkan ukuran bajunya, Eka rajin melakukan Yoga di Gym dekat rumahnya. Minggu pertama dia melakukan beberapa gerakan yoga seperti utkatasana/ chair pose dan plank belum sempurna. Setiap pagi dia berlatih di rumah, akhirnya dia mampu melakukan gerakan itu dengan sempurna, sehingga minggu-minggu berikutnya ketika dia berlatih rangkaian yoga di Gym dengan pelatih dan teman-temannya, dia semakin percaya bahwa dia mampu melakukan chair pose dan plank. Memang kelihatannya menguasai sesuatu yang baru itu suatu hal yang mudah; yang perlu kamu lakukan hanyalah latihan dan latihan. Tetapi, jika setiap tugas-tugas baru adalah mudah, biasanya hal-hal yang kurang dikenali atau hal yang sulit akan dihindari. Hal tersebut tidak akan meningkatkan self-efficacy. Jadi untuk meningkatkan self-efficacy tetaplah diperlukan usaha akan sesuatu yang sulit dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang ada.

Vicarious experiences. Sumber kedua dalam efficacy adalah vicarious experience atau juga bisa disebut dengan observational learning. Perilaku (baik keberhasilan atau kegagalan) dari orang lain dapat digunakan sebagai standar pembanding untuk seseorang. Mengamati kesuksesan orang lain yang masih dalam satu kondisi/ situasi yang sama dapat meningkatkan self-efficacy sedangkan sebaliknya jika mengamati kegagalan orang lain akan mengurangi self-efficacy. Misalnya, seorang wanita mungkin mengalami kegagalan dalam usaha awalnya untuk menggunakan sebuah alat di Gym yaitu a Stair Climber, akibatnya, dia kehilangan self-efficacy. Namun, dia bisa mengamati salah satu temannya yang dianggap telah sukses dalam menggunakan alat tersebut, dan menjadikan keberhasilan temannya tersebut sebagai sebuah katalis untuk meningkatkan self-efficacy nya.

Verbal persuasion. Teknik persuasif meliputi persuasi verbal, umpan balik evaluatif, harapan dari pihak lain, self-talk, dan strategi kognitif lainnya. Di dalam ruang lingkup olahraga prestasi, teknik-teknik ini banyak digunakan oleh para pelatih, manager, orangtua, dan peers di dalam upaya untuk mempengaruhi persepsi efficacy dari seorang atlet atau sebuah tim. Kekuatan pengaruh persuasif pada self-efficacy ini bergantung pada prestise, kredibilitas, keahlian dan kepercayaan dari pembujuk/ persuader. Seorang pelatih biasanya dipercayai sebagai sumber informasi yang mempunyai tingkat kredibilitas tinggi oleh atletnya.

Physiological Information. Sensasi tubuh seperti peningkatan denyut jantung, meningkatnya jumlah keringat, dan peningkatan laju pernafasan dapat memberikan sinyal/ tanda pada seorang individu tentang tingkat efficacy nya saat itu. Penilaian individu terhadap informasi sangatlah penting. Contohnya sebagai berikut: di satu sisi, jika kenaikan denyut jantung diinterpretasikan sebagai sebuah konfirmasi dari kondisi fisik yang jelek, hal ini dapat mengurangi self-efficacy. Di sisi lain, jika kenaikan denyut jantung dijadikan sebuah bukti dari hasil pemanasan yang memadahi, hal ini dapat meningkatkan self-efficacy.

Selain empat sumber tersebut, para ahli lainnya menambahkan dua hal yaitu imagery experience dan emotional states. Imagery experience adalah sebuah bentuk khusus dari vicarious experience yang merupakan cognitive self-modelling/ pemodelan kognitif. Disini seorang individu menggunakan visualisasi untuk mengulangi dan berhasil menghadapi dan menguasai situasi yang menantang. Yang kedua yaitu emotional states. Suasana hati dapat mempengaruhi self-efficacy. Contohnya begini: kesuksesan dan kegagalan seseorang di masa lalu tersimpan di dalam memori dan terkadang kembali lagi. Dengan demikian, ketika seorang individu sukses, mereka mengingat pengalaman tersebut dalam sebuah memori bersama dengan perasaan gembira dan semangat. Begitu juga jika seseorang gagal, mereka menyimpan memori kegagalan tersebut dengan perasaan kecewa, sedih, dan depresi. Oleh karena itu, keberadaan suasana hati yang negatif yang diakibatkan oleh memori-memori kegagalan menjadikan tingkat self-efficacy seseorang menurun.

Kesimpulannya, berdasar SET, verbal persuasion, mastery experience, vicarious experiences, imagery experience, dan emotional states mempengaruhi self-efficacy, dan selanjutnya akan mempengaruhi perilaku kita.

 

FFE

Birmingham, 4/6/2017

References:

Carron, Albert V., Hausenblas, Heather A., Estabrooks, Paul A. 2003. The Psychology of Physical Activity. The McGraw-Hill Companies, Inc. NY, USA

Feltz, Deborah L., Short, Sandra E., Sullivan, Philip J. 2008. Self-Efficacy in Sport. Human Kinetics.

Thatcher, J., Day, M., Rahman, R. 2011. Sport and Exercise Psychology. Learning Matters Ltd. Exeter

Lox, C.L., Martin Ginis, K.A., Petruzzello, S.J. 2010. The Psychology of Exercise. Integrating Theory and Practice. Holcomb Hathaway, Publisher, Inc. USA.

 

Cognitive Evaluation Theory (CET)-Hal Yang Membahas Tentang Tiga Kebutuhan Dasar (dalam latihan)

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, bahwa Self-Determination Theory (SDT) mempunyai beberapa sub teori. Salah satu yang akan saya tulis kali ini adalah Cognitive Evaluation Theory (CET).

CET adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa perilaku yang termotivasi secara intrinsik berdasar pada perjuangan untuk memenuhi tiga kebutuhan dasar psikologis. Yaitu pemenuhan kebutuhan untuk competence, autonomy, dan relatedness. Jika faktor sosial dan atau lingkungan tidak dapat memenuhi salah satu kebutuhan tersebut, maka akan mengurangi motivasi seseorang.

Autonomy satisfaction dihasilkan dari perasaan bahwa pilihan untuk ikut di dalam sebuah perilaku adalah kehendaknya sendiri dan tidak dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal. Contohnya seperti ini, jika anda adalah seorang Personal Trainer (PT) yang akan membuat sebuah program latihan untuk seseorang yang mengalami obesitas. Bagaimana anda akan memastikan bahwa program latihan anda tersebut akan memenuhi kebutuhan partisipan tersebut dalam hal autonomy satisfaction? Hal yang mungkin bisa dilakukan PT tersebut adalah sebagai berikut: buat sebuah interview dengan calon partisipan, fungsinya adalah untuk menekankan tentang manfaat dan keuntungan dari sebuah latihan, dan tanyakan padanya apakah masih ada pertanyaan yang ingin disampaikan. Langkah ini mungkin dapat lebih mendorong calon partisipan untuk memutuskan kapan akan memulai program latihan dan tidak merasa dipaksa oleh pihak lain. Latihan atau intervensi-intervensi yang akan dilakukan mungkin juga berdasar atas pilihan calon partisipan. Jadi, semua kegiatan yang akan dilakukan oleh sang calon adalah berdasar pada pilihannya sendiri tidak dari PT tersebut.

Selanjutnya adalah competency satisfaction, adalah sebuah persepsi bahwa anda dapat melakukan sebuah perilaku (behaviour) dan dapat mencapai sebuah keberhasilan tersebut melalui perilaku itu sendiri (konsep ini mirip dengan self-efficacy). Kebutuhan ini sekali lagi sangat penting dalam sebuah self-determined motivation (motivasi yang muncul/ ditentukan oleh diri sendiri) karena seseorang tidaklah mungkin termotivasi jika mereka tidak mempunyai kepercayaan diri untuk melakukan perilaku (contohnya latihan). Nah, jika anda seorang PT, apa yang akan anda lakukan untuk calon partisipan anda agar kebutuhan kompetensi ini terpenuhi oleh mereka? Hal yang bisa dilakukan pada saat konsultasi awal adalah menawarkan pada calon partisipan untuk diberikan regular positive feedback pada laporan kemajuan latihan mereka, hal ini akan membantu meningkatkan persepsi peserta untuk kepercayaan diri dan kompetensinya untuk melakukan latihan. Hal lain yang bisa dilakukan adalah membuat diary latihan, jadi partisipan dapat melihat track record dan melihat progress latihan mereka.

Yang terakhir adalah relatedness satisfaction, adalah kebutuhan untuk diterima oleh orang lain dan memiliki supportive relationship. Manusia mempunyai sebuah kebutuhan dasar untuk berinteraksi positif dengan orang lain, dan hal ini akan menjadi aspek dasar kesenangan dari sebuah aktivitas olahraga dan latihan dan kemudian menjadi sebuah motivasi intrinsik. Sebagai seorang PT, hal yang perlu dilakukan untuk selalu support/ mendukung partisipannya adalah melakukan regular meeting atau dikontak melalui telephone. Menerapkan sistem “buddy” antar partisipan juga akan memberikan kesempatan untuk saling support antar partisipan.

Oleh karena itu, CET juga memberikan penjelasan bahwa environment (lingkungan) dapat mendorong atau bahkan melunturkan kepuasan tiga kebutuhan dasar dan selanjutnya melunturkan motivasi intrinsik. Dalam penelitian yang berkaitan dengan CET, ada dua tipe lingkungan yang sering diteliti yaitu autonomy supportive environment dan controlling environment. Yang pertama, autonomy supportive environment, fokus terhadap penawaran pilihan dan kesempatan-kesempatan untuk pemikiran mandiri. Untuk menyediakan lingkungan ini, seorang leader/ pelatih dianjurkan untuk mendengarkan dan memahami perasaan, memberikan positive feedback dan menyediakan informasi yang relevan jika diperlukan. Kebalikannya, dalam controlling environment seorang leader/ pelatih cenderung menguasai/ mengontrol keadaan, menggunakan perintah dan instruksi, dan memotivasi melalui ancaman dan kritik.

Tulisan ini diambil dari salah satu sub-bab dari buku favourite saya, Sport and Exercise Psychology.

Salam dari Birmingham, 2/1/2017.

FFE

Reference:

Thatcher, J., Day, M., Rahman, R. 2011. Sport and Exercise Psychology. Learning Matters Ltd. Exeter.

Penelitian dalam Olahraga

Penelitian bukanlah hanya untuk para akademisi, dan pentingnya keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan penelitian bukanlah hanya untuk mereka yang berharap akan menerbitkan hasil penelitiannya di jurnal-jurnal akademik. Pertumbuhan yang sangat besar pada dunia kerja di bidang olahraga akhir-akhir ini telah membuka mata kita untuk tidak lagi meremehkan pentingnya pengetahuan tentang metode-metode penelitian yang berkaitan dengan olahraga. Contohnya, pelaku industri pada bidang pemasaran olahraga mungkin memerlukannya untuk menilai atau mengukur efektivitas dari sebuah strategi pemasaran tertentu. Pemerintah mungkin menginginkan untuk mengukur seberapa besar pengaruh ekonomi dari penyelenggaraan suatu perhelatan besar olahraga nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON), dan masih banyak contoh lainnya. Untuk dapat memenuhi keingintahuan tersebut diperlukan berbagai macam keterampilan dalam penelitian dan menentukan penelitian mana yang lebih efektif.

Jadi, apakah tujuan penelitian itu? Hussey dan Hussey dalam Gratton and Jones (2004) merangkumnya sebagai berikut:

  • Untuk menyelidiki beberapa situasi yang ada atau menyelidiki permasalahan yang ada.
  • Untuk menyediakan solusi dari sebuah masalah.
  • Untuk lebih mengeksplorasi dan menganalisis isu-isu umum.
  • Untuk menyusun dan membuat sebuah langkah-langkah atau system yang baru.
  • Untuk menjelaskan sebuah fenomena baru.
  • Untuk menghasilkan sebuah pengetahuan baru.
  • Dan yang terakhir, mengkombinasikan dari dua atau lebih dari tujuan-tujuan diatas.

Sepintas setelah mengetahui apa saja tujuan penelitian diatas memang terlihat sederhana yang menyebabkan munculnya beberapa kesalahpahaman terhadap penelitian itu sendiri. Umumnya, ini terjadi pada mahasiswa S1 yang akan melaksanakan tugas akhirnya (skripsi). Kesalahpahaman tersebut antara lain:

  • Penelitian bukanlah hanya mengumpulkan informasi-informasi yang tersedia. Membaca sebuah artikel tentang pengaruh ekonomi dari penyelenggaraan event olahraga tertentu dan membuat rangkumannya bukanlah sebuah penelitian. Mengumpulkan informasi tentang pengaruh ekonomi dari penyelenggaraan PON di suatu propinsi untuk menulis sebuah essay atau paper juga bukanlah sebuah penelitian.
  • Penelitian juga bukan hanya mengumpulkan data baru. Seseorang mungkin tertarik pada alasan mengapa seorang atlet mengkuti kejuaraan tenis. Datang ke sebuah klub tenis dan menanyai mereka bukanlah sebuah penelitian.
  • Penelitian bukanlah menetapkan keputusan untuk membuktikan pendapat berdasar pengalaman pribadi. Misalnya, anda tidak mau menonton pertandingan sepakbola di Gelora Bung Karno (GBK) karena harga tiketnya yang mahal, dan akhirnya memutuskan bahwa harga tiket adalah hambatan atau pencegah seseorang untuk menonton pertandingan sepakbola di GBK.
  • Penelitian tidak selalu harus menghasilkan suatu hal yang benar-benar baru. Mahasiswa terkadang dihantui oleh nasihat bahwa mereka diharuskan untuk membuahkan penemuan yang orisinal dan terkadang mereka terlalu berlebihan mengartika orisinal itu sendiri. Penelitian, contohnya, melibatkan pengujian dari teori yang ada pada situasi baru, hal ini masih bisa disebut menghasilkan penemuan orisinal. Pengujian sebuah teori di lokasi berbeda dan mengulangi sebuah penelitian dengan menggunakan metode baru adalah salah satu cara untuk menghasilkan hasil penelitian yang disebut orisinal (Veal dalam Gratton and Jones, 2004).

Untuk lebih mengenal apakah dan bagaimanakah penelitian itu hendaknya mahasiswa sering membaca artikel hasil penelitian, baik yang kategori nasional maupun internasional. Apa saja yang perlu kita garis bawahi ketika membaca sebuah artikel hasil penelitian? Thomas and Nelson dan Baker dalam Gratton and Jones, 2004 memberikan tips untuk hal ini:

  • Bacalah artikel yang kamu rasa nyaman membacanya. Biasanya konsep dan teknik bahasa yang digunakan penulis artikel merupakan hambatan bagi para pembaca, sehingga pembaca merasa kesulitan memahami dan bosan. Ketika kita membaca artikel yang kita merasa nyaman, akan memudahkan memahami tujuan keseluruhan dari sebuah artikel.
  • Bacalah penelitian-penelitian yang sesuai dengan interest kamu. Jangan merasa kamu harus diwajibkan membaca sebanyak mungkin artikel penelitian, dan berhenti di tengah-tengah ketika merasa tidak cocok—jangan biarkan kebiasaan ini. Fokus pada suatu hal yang merupakan minatmu sejak awal !!!
  • Baca abstrak terlebih dahulu. Dengan membaca abstrak kamu akan bisa menentukan apakah ini artikel yang saya perlukan dan minat.
  • Kenali tujuan dan pertanyaan penelitian.
  • Mengapa peneliti menentukan lokasi dan sampel tersebut? Temukan lokasi dimana pengambilan data dilakukan? Dari mana? Apakah kelebihan dan kelemahan dari pemilihan ini?
  • Metode apakah yang digunakan untuk pengambilan data? Bagaimana mereka mengumpulkan data? Mengapa metode ini yang mereka gunakan?
  • Apakah penemuan terpenting dari penelitian tersebut? Bagaimanakah penulis menghubungkan penemuan terpenting tersebut pada keseluruhan pertanyaan penelitian.
  • Jangan terlalu konsentrasi pada analisis statistiknya. Pertama kali, jangan terlalu perhatian penuh pada tes yang digunakan dan level signifikansinya. Cobalah untuk menentukan makna/ artu hasil penelitian secara umum terlebih dulu.
  • Berpikir kritis tapi tetap obyektif. Carilah kelemahan dan kekuatan dari hasil penelitian tersebut.

Setelah belajar memahami apakah dan bagaimanakah penelitian itu, kemudian kita hendaknya mengetahui bagaimana proses penelitian tersebut. Berikut adalah skema proses penelitian yang penjelasannya, insyaAllah akan dilanjut pada tulisan berikutnya:

Pemilihan Topik ==> Meninjau Literatur ==> Mengembangkan teori dan kerangka konsep ==> Mengklarifikasi pertanyaan penelitian/ hipotesis ==> Desain Penelitian ==> Mengumpulkan Data ==> Menganalisis Data ==> Menarik kesimpulan.

 

-FFE-

Birmingham, 8/12/2016

Ditulis disela-sela kejenuhan menulis disertasi.

 

Reference

Gratton, C and Jones, I. 2004. Research Methods for Sport Studies. Routledge, Taylor and Francis Group, London and New York.

Pingin kasih judul “Renungan Pagi”

Hari ini Sabtu, 12 November 2016. Meskipun sudah cukup siang, tapi matahari enggan menampakkan dirinya. Diiringi lantunan lagu-lagu Opick, saya duduk di depan laptop dan mulai memainkan keyboardnya. Kebetulan kamar saya di lantai dua, dan posisi meja kerja dekat dengan jendela, sehingga saat penat melanda diwaktu mengerjakan sesuatu, saya bisa melihat pemandangan di luar. Saat ini banyak daun-daun berguguran, pohon-pohon sudah mulai gundul, menandakan bahwa autumn sudah akan berakhir dan kita bersiap untuk menghadapi dinginnya winter di UK.

Tak terasa sudah tiga tahun saya di Birmingham untuk menempuh study saya, tapi saya belum bisa menyelesaikanya tepat waktu sesuai timeframe yang diberikan di Letter of Offer. Ah…bagi saya sulitlah untuk bisa menyelesaikan program doktoral dengan waktu tiga tahun, apalagi di awal tahun saya mengalami pergantian supervisor dan topik penelitian yang benar-benar saya tidak pernah tahu sebelumnya. Tapi ya itulah perjalanan hidup, misteri. Tapi yang pasti, saya percaya Allah akan memberikan yang terbaik untuk hambaNya.

Alhamdulillah ya Allah, saya diberikan nikmat hidup bisa menggapai mimpi sekolah disini. Saya bisa masuk di perguruan tinggi yang peringkatnya di dunia dalam skala seratus, mendapat ilmu dari jurusan yang rangking keilmuannya menjadi top 5 di UK bahkan pernah menjadi nomor 1. Sesuatu hal yang tak pernah terbesit di benak saya bertahun-tahun lalu. Tidak mudah memang berenang di kolam yang begitu luas dengan bekal pengetahuan cara berenang yang sedikit. Tapi dari situlah pembelajaran itu berawal. Pelajaran bertahan dalam segala hal, dan saatnya perjuangan ini harus dihentikan. Final year PhD student, 1 tahun lagi targetnya harus selesai. Merdeka!!!

-FFE-

Birmingham, 2016

Sehari di Paris

Keindahan kota Paris tidaklah diragukan lagi. Bagi saya pribadi, setiap sudut kota ini adalah tempat wisata bergaya Eropa. Awalnya sedikit ada rasa cemas, khawatir dan ragu-ragu mau mampir ke sini karena cerita teman-teman akan banyaknya kejadian yang kurang menyenangkan. Tetapi, karena saat ini bepergiannya dengan suami, jadi ketakutan itu saya kesampingkan hehe. So, inilah cerita kami selama disana.

Mendarat di Paris de Gaulle Airport pada sore hari pukul 16:55, kami langsung menuju terminal 2 untuk berganti transportasi darat menuju tempat penginapan. Agak sedikit muter-muter mencari stasiun metro nya, meskipun yaa ada penunjuk arahnya sih. Tapi ga apa-apalah namanya juga pertama kali disini. Oiya, saran saya sebelum pergi kemanapun, bukalah youtube tentang things to do di kota itu dan bagaimana menuju kota dari bandara. Banyak kok orang-orang yang buat, biar kita sudah ada gambaran dan tidak kelihatan bingung banget gitu. Seperti yang saya lakukan sebelum berangkat, ngecek dulu transportasi apa dari bandara ke Paris nya di google map. OK, back to cerita saya. Sesampainya di stasiun metro, hal pertama yang dilakukan pastilah membeli tiket, kalau saya memilih beli di mesin saja dan ternyata di dekat mesin tiket pun ada petugas yang siap membantu. Sesuai masukan mbak petugas (karena kami menginap di kota Paris nya), akhirnya kami membeli tiket zona Paris (saya lupa nama aslinya), artinya tiket ini berlaku untuk semua jenis transportasi ke kota Paris. Dari bandara, kami naik RER B menuju Gare du Nord, lihatlah petunjuk arah ya, ternyata ga susah kok hehe. Gare du Nord adalah stasiun metro yang besar, karena dari sini tempat bergantinya para penumpang untuk menuju ke tujuan masing-masing. Jangan khawatir, di setiap metro/ RER pun akan ada pemberitahuan kok jika akan sampai di stasiun apa dan ada map nya juga diatas pintunya. Tetap melihat petunjuk arah, kami mencari lokasi metro yang akan membawa kami ke stasiun Chateau d’Eau (perhatikan juga keterangan di tembok sebelum masuk ke lorong rel, jangan sampai terbalik arahnya hehe). Saran saya, kalian juga bisa beli tiket yang berjumlah 10 (namanya carnet), ini lebih murah jatuhnya yaitu 14.50 Euro karena kalau beli single 1.9 Euro, bisa dipake jenis kendaraan RER zona 1 dan 2, metro, city bus, tram dan bagusnya lagi unlimited penggunaannya (kata petugasnya, 10 tahun lagi kamu kesini, tiket itu juga masih berlaku kok hehe). Kalau tidak salah, satu tiket masa aktifnya setelah masuk dan keluar gate atau naik dan turun bus adalah 1.5 jam. Oiya, ini kamu bisa download peta untuk metro paris-metro-mini-map-2014.

2016-11-06-08-00-40

Carnet ticket

Sesuai rencana, hari kedua di Paris kami akan menggunakan semaksimal mungkin tiket carnet yang dibeli hehe. Yappp tujuan pertama adalah Eiffel Tower. Jangan lupa map harus dibawa kemana-mana untuk mempermudah memilih metro jurusan mana dan turun di mana. Pilihan lain, install aplikasi Citymapper jika kamu punya data internet. Bisa juga pakai google map. Kalau saya nyaman pakai Citymapper, karena saya pengguna 3 jadi bisa online di negara-negara Eropa hehe (bukan promosi, tapi saya puas sebagai pelanggan 3). Yeay, akhirnya sampai juga di Eiffel…..!!!

Banyak cerita jika di Eiffel tower itu ga aman karena ini itu….kalau menurut saya, kita yang lebih hati-hati ya. Kan biasa di lokasi wisata seperti itu, misal…para penjual asongan memaksa dalam menjual dagangannya, orang “mengemis” dengan cara yang lebih keren hehe. Kalau ga mau beli dan ga mau ngasih, bilang aja “NO” dengan tegas, jangan ragu-ragu. Tapi kalau mau beli ya silakan menawar. Karena kami kemarin pingin beli gantungan kunci, akhirnya kami komunikasi dengan penjualnya. Mereka malah bisa Bahasa Indonesia hehe. Katanya banyak orang Indonesia kesini, jadi mereka harus belajar bahasa ini. Puas melihat menara ini dari berbagai sudut (sambil makan siang juga di taman hehe) kami melanjutkan perjalanan. Nah, mulai dari sini akan saya ceritakan bagaimana keliling Paris yang lebih nyaman dan insyaAllah aman dari copet hehe. Yappp….dengan cara membeli tiket Batobus Pass. Apakah itu? Ini adalah tiket sehari (atau dua hari juga ada) naik “perahu” atau boat berkeliling kota Paris dengan naik dan turun di 9 stasiun nya. Kalian bisa naik dan turun menyesuaikan waktu kalian, karena boat ini akan berhenti di dekat lokasi wisata, yaitu Musee d’Orsay, Saint-Germain-des-Pres, Notre-Dame, Jardin des Plantes, Hotel de Ville, Louvre, Champs-Elysees dan balik ke Eiffel lagi. Oiya, perhatikan jam operasionalnya ya, kalau kami kemarin sampai pukul 7 malam. Nah berapa harga tiket?? Menurut kami reasonable dengan harga 17 Euro untuk dewasa, 8 Euro untuk anak-anak, 11 Euro untuk special rate (kayak saya student dapat yang ini, tinggal nunjukin kartu mahasiswa aja hehe), kita bisa menikmati kota Paris dengan jalur sungai hehe. Ga usah khawatir kalau hujan, boat ini ada atapnya kok hehe. Untuk lebih jelasnya bisa lihat ini deh:

Sepertinya, kalau Paris mah sudah banyak ya foto-foto atau gambar di internet. Jadi saya tidak usah banyak-banyak upload foto disini hehehe. Intinya, dengan menggunakan Boat ini, kalian bisa menghemat tenaga dan waktu berkeliling Paris. Oiya, jangan sampai hilang ya tiketnya, karena ga bisa diganti. Jaga baik-baik ya, karena setiap naik boat akan ditanyakan tiketnya plus disuruh buka tas kita hehe. Okay, sampai disini dulu cerita tentang Paris. Karena tiket carnet tidak maksimal di hari pertama, kami memanfaatkannya di hari kedua. Keliling lagi ke tempat-tempat menarik sekitaran Paris. Kami share deh sebagian dokumentasinya hehe:

“Cobalah pergi bersama dengan pasanganmu (suami/ istrimu) dengan cara “backpacker”, disini kamu akan memupuk rasa cinta, re-charge kasih sayang juga, terlebih lagi kamu akan melihat seberapa besar rasa cinta pasanganmu itu hehe”

Birmingham, 6/11/2016

-FFE-

Scotland, Ujung Utara Inggris Raya.

Selama menjalani study di UK, saya mencoba untuk mengunjungi kota-kota yang ada di negara ini. Bukan karena banyak uang sih, karena perginya pasti dengan cara berburu tiket murah, dan itu biasanya dilakukan jauh-jauh hari. So, jika ingin liburan salah satu tips nya adalah membuat itinerary maksimal 1 bulan sebelum keberangkatan, agar dapat tiket dan penginapan yang lebih murah. Trus pertanyaan selanjutnya, apa ga ganggu kuliahnya…kok main mulu??? Kalimat itu sering muncul ketika posting foto di medsos hehehe. Ya engga ganggu lah, kita kan perginya pasti mempertimbangkan semuanya, kan sudah terbiasa dengan time management yang diajarkan di kampus. Lagian, kota-kota di UK sayang kalau terlewatkan dikunjungi (for me personally), karena salah satu alasan saya milih kuliah ke UK kan juga karena saya suka historical building, dan itu banyak dijumpai disini. Hampir setiap kota pasti punya old town, dan saya pasti terkagum-kagum dengan itu. Ok, kali ini saya akan bercerita tentang wilayah utara UK, Scotland !!!

Kata orang, belum sah di UK kalau belum mengunjungi bagian utara UK ini. Ya mau ga mau sih, saya harus ke sana hehehe (alesan). Alhamdulillah kesempatan itu datang juga. Saya ke sana bersama dengan housemates dan suami saya tentunya, soalnya dia yang harus setir hihihi. Kami memutuskan sewa mobil karena dirasa lebih nyaman, karena tidak mau melewatkan pemandangan-pemandangan bagus sepanjang perjalanan. Bersama salah satu housemates saya, Arum, akhirnya saya membuat itinerary kepergian kami di Scotland 3 hari 2 malam. Yups…kita mulai dengan sewa mobil ya. Oiya, itinerary ini berangkat dan pulang dari dan ke Birmingham ya.

Sewa mobil: jika tidak ingin tergantung sama tour guide selama perjalanan kita dan perginya bersama kawan-kawan, masukan saya ya sewa mobil. Prosesnya tidak ribet, dan boleh kok pake SIM/ driving license dari Indonesia. Kami sewa mobil di Enterprise https://www.enterprise.co.uk/en/home.html yang paling dekat lokasinya dengan alamat kami. Dengan klik alamat web tersebut, kita bisa cari jenis mobil yang sesuai dengan keperluan kita dan semua info tentang syarat-syarat ada disitu semua. Untuk sewa mobil di enterprise, kalian perlu persiapkan kartu kredit, deposit (kurang lebih 200 pounds), sim yang menunjukkan usiamu lebih dari 25 tahun (kalau kurang dari 25, akan ada tambahan biaya), jika perlu beli asuransi sekitar £50. Pelayanannya juga ok loh, ada antar dan jemput juga, plus karyawannya friendly dan helpful. Iihh kok jadi promosiin enterprise ya hehe. Tapi emang bener, kami puas dengan pelayanannya. Oiya, deposit akan dikembalikan ke akun saat kita kembalikan mobilnya.

Kedua, booking penginapan: di jaman “klik” ini kita sudah ga repot-repot untuk mencari info tentang semua hal, penginapan juga tentunya. Kita bisa sesuaikan dengan budget dan kondisi yang kita inginkan. Misalnya, karena kita bawa mobil sendiri cari penginapan yang free parking. Kalau ingin menghemat data hand phone, cari yang free wifi. Kalau mau menghemat makan, cari yang bisa masak (biar ga perlu susah-susah cari resto/ tempat makan yang ada label halal juga). Nah dengan mempertimbangkan itu tadi, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa apartment dengan bantuan booking.com. Kami menginap di Edinburgh, di sebuah apartment dekat dengan pantai di wilayah Western Harbour Terrace. Tempatnya recommended banget. Dua kamar tidur, dua kamar mandi (salah satunya di kamar), dapur yang lengkap dengan perabot dan beberapa keperluan dapur juga disediakan, living room dengan TV gedhe hehe, dan meja makan. Enaknya lagi, ga perlu booking fee, kita bayar ketika sudah sampai di tempat. Berikut suasana sekitar apartment:

Ketiga, lokasi untuk memanjakan mata: Kami berangkat dari Birmingham Jumat siang sekitar pukul 12:00. Karena ada beberapa ruas jalan yang diperbaiki, waktu yang seharusnya 5 jam 36 menit (sesuai GPS di iphone map), menjadi lebih dari 6 jam, macet tapi tidak separah di Jakarta kok hehe. Sesampai di apartment kita bisa istirahat dulu untuk mempersiapkan energy keesokan harinya, karena untuk hari kedua kita akan berkeliling Edinburgh-Inverness-Edinburgh.

Nah, perjalanan dimulai pukul 8:30 pagi dengan kondisi sudah sarapan dan bawa bekal makan siang hehe. Perjalanan ini menuju Highland dulu, disini keagungan ciptaanNya benar-benar terpampang nyata, sepanjang jalan terdapat danau-danau cantik, dan tak kalah cantiknya sebuah kastil yang terdapat di pinggir danau/ Loch Ness. Setelah berhenti di beberapa tempat yang memang dari situ terdapat view yang begitu indahnya, kami menuju Fort William untuk sementara melepas lelah dan makan siang. Letaknya dipinggir jalan raya, jadi tidak sulit untuk menemukannya. Setelah perut sudah terisi dan lelahpun terobati, kami melanjutkan perjalanan ke Glenfinnan yaitu salah satu tempat shooting film Harry Potter. Kurang lebih satu jam kami disana dan setelah mengabadikan beberapa spot akhirnya kami menuju Inverness, sebuah kota tertinggi yang kami kunjungi. Berikut hasil jepretan sepanjang perjalanan menuju Glenfinnan:

Di kota Inverness kami agak sedikit roaming, karena penduduk Inverness menggunakan Bahasa Scotland untuk berkomunikasi, dan uang untuk transaksi adalah uang Scotland Pound Sterling bukan uang Pounds yang biasa kami pakai di England. Dan setelah puas menikmati indahnya kota ini, kami segera pulang, karena hari sudah cukup malam. Berikut gambaran kota Inversess:

Keesokan harinya tibalah menikmati indahnya kota Edinburgh. Pukul 10 pagi, kami sudah keluar dari apartment, sebelum menuju kota, kami menyempatkan diri untuk berfoto di sekitar penginapan. Dan…akhirnya tadaaaaa kota Edinburgh !!! pertama kami menuju Calton Hill, disini kita dapat menikmati indahnya kota dari atas bukit….cantikkkkkkkkk. Ini buktinya:

Setelah itu, menuju Edinburgh Castle dan kota tuanya. Alhamdulillah ya Allah, Kau beri kesempatan aku menikmati keindahan ciptaanMu ini.

Setelah selesai menikmati indahnya kota Edinburgh, kami pulang ke Birmingham dengan mampir kota yang tak kalah cantiknya, Glasgow. Tujuan pertama adalah University of Glasgow, karena disinilah terdapat spot dimana film Harry Potter dibuat. Harry Potter lagi yak??? Saya memang nge-fans dengan film ini hehehehe. Hari sudah mejelang malam, tapi tidak melunturkan semangatku untuk berjalan menuju Hunterian Museum. Dan sesampai disana….speechless !!!! Hari semakin gelap, dan saatnya kami kembali ke Birmingham. Berikut foto-foto di kota Glasgow:

Dan akhirnya hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah perhatikan tempat parkir ketika kita berhenti, karena di UK tukang parkirnya mesin hehehe. setelah sampai lokasi, pastikan ambil karcis parkir ya, dan tentunya dengan membayarnya terlebih dahulu berdasar berapa lama kita akan parkir. Perhatikan pula kondisi bahan bakar, jangan sampai kehabisan hehehe. Selanjutnya yang tidak kalah penting, cari service area di sepanjang jalan raya. Karena jika driver lelah, bahaya kan?? Perjalanan jauh, perlu memperhatikan kondisi driver juga hehe.

Ok, sampai disini dulu cerita saya around UK, edisi Scotland.

See you !!!

FFE-Birmingham

abdul-hamid.com

catatan harian seorang abah

kursniper

learning and teaching should go your own way

mamarantau

Tempat Berbagi Info, Cerita, dan Inspirasi dari Ibu di Perantauan

Discover

A daily selection of the best content published on WordPress, collected for you by humans who love to read.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.